Jumat, 18 Juni 2010

TITIK NADIR KESADARAN

Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dari keadaan yang monoton dari waktu ke waktu. SO mungkin sebagian orang mempunyai berbagai cara untuk menghilangkan kata BOSAN tersebut ada yang berasumsi “ Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita akan terbebas darinya”. Tapi bagaimana mungkin kita bisa menikmati kebosanan tersebut padahal dia terus mengusik jiwa kita seperti lirik lagu yang familiar kita dengar “Bosan aku dengan penat dan enyah saja kau pekat seperti berjelaga jika kusendiri” And guys ini sekedar berbagi ceritaku ketika dilanda kebosanan. Aktifitas yang begitu padat yang mengakibatkan masaku terhempas. Ada kepenatan tersendiri kala tersentuh lelah yang begitu terasa. Entah sampai kapan ini terjadi ku tak tahu. Karena hidupku “STUCK” sampai disini, terasa ada tembok yang menjulang tinggi tatkala ku hentakkan kaki di ranah kegembiraan. Ada saja yang membuatku gundah untuk mencapai titik kegembiraan tersebut. Hingga pada akhirnya hanya rasa amarah yang timbul secara spontan. Yang terlihat di sudut mataku semua hanya secuil harapan tuk menggapai suatu kemaslahatan hidup atau bisa di katakan “NIHIL” . Dan memandang dunia hanya “BULL SHIT” semata. Aku ingin seperti mereka mengekspresikan diri lewat hal apapun yang ada. Entah lewat senyuman ceria atau bahkan lewat senandung lagu. Bebas terbang kemanapun sayap patah ini membawaku. Mengkirabkan setiap hentakan nafas dengan keceriaan.

KETIKA MARAH ADA
Tersadar diri kala malam menerpa. Aku telah terlarut lama dalam murka. Geram telah menutup lama dalam iba. Marah telah membias lama dalam rasa. Tak peduli kepada kedua orang tua. Bunda yang telah memberikan cinta. Ayah yang telah mencurahkan makna. Kini hanyalah sesal yang menyapa. Aku hanyalah seorang insan hina. Aku hanyalah seorang manusia nista. Aku hanyalah seorang putra durjana. Aku hanyalah seorang anak durhaka. Ampuni aku wahai ayah bunda. Dari segala perkara dosa. Dan jika sang maut datang tiba. Ku tak mau bertemu siksa. Ku tak mau masuk neraka. Andai kembali diri lahir kedunia. Ku ingin kembali merenda jiwa. Memahat kasih untuk mereka. Menapak jalan dengan ridhonnya. Hingga tiap detik bersua bahagia.


Tuhan apakah ini memang jalan hidupku yang memang tak pernah berujung bahagia. Yah itu semua KuasaMu dan semua jalan manusia tersurat dalam KodratMu. Ku tahu yang ku jalani demi kedua orang tuaku untuk menggapai syurgaMu. Memang kadang ada nafsu yang terjaga sehingga tanpa sadar ada perlakuan kita terhadap orang tua sangat menyakitkan, namun mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut, justru mereka tetap mendo’akan kita setiap saat, Maafkan aku karena selama ini telingaku tertutup tak mampu mendenagr jerit tangis do’a kalian, Mataku Buta tak mampu melihat ketabahan hati kalian. Hidungku terbius sehingga ku tak mampu menghembuskan kata terimakasih untuk kalian.Ya Allah aku bukanlah ahli syurga namun ku juga tak mampu menahan siksa neraka. Rabb maafkan semua kesalahan hamba dan kedua orang tua hamba dan peliharalah mereka seperti mereka memeliharaku sewaktu kecil.


DO’A TUK ORANG TUA
Diri ini terlalu pintar merangkai murka. Hingga mereka terlampau luka. Diri ini terlalu terampil mengukir dosa. Hingga mereka tertampar duka. Diri ini terlalu cekatan menorah dusta. Hingga mereka terpanggang nista. Ya Allah, Tuhan yang maha Esa. Kepada-Mu ku pasrahkan semua. Seiring diri menyusun do’a. Biarkan mereka selalu mendekap bahagia. Biarkan mereka selalu meraup ceria. Dan bila sampai akhir hayat tiba. Masukkan mereka kedalam syurga. Berikan selalu mereka dengan nikmat karunia. Yang takkan habis termakan masa.


Namun aku manusia biasa yang mendambakan suatu kebahagiaan di saat yang tak tentu. Terkadang ada kalanya ku ingin menikmati keceriaan di kala ku jalani rutinitas, “SO FAR” apalagi kebahagiaan itu yang menjemputku dalam waktu luang. GOD Engkau maha pengasih lagi maha Penyayang berikanlah secercah asa tuk jiwaku yang kian bimbang. Bukalah mata hati orang tuaku agar ada kata “BALANCE” di kehidupanku ini. Entah apa yang menimpa keluargaku ini. sebelum kepenatan ini menyeruak di dinding hati ada sebuah problema yang tak kunjung usai. Finally hari kemarin mungkin menjadikan titik nadir untuk mencapai sebuah kemaslahatan hidupku. Bertubi-tubi sebuah aral melintang melintasi perjalanan hidupku. tak tahu mengapa puncaknya ku harus banting tulang menyusuri tiap sisi kota dengan perasaan bimbang untuk mencari seseorang yang telah membawaku ke dunia ini. sampai hari ini belum ada khabar ataupun hunian yang dia tempati saat ini. dan aku masih dan terus berharap akan kedatanganya sampai kapapun ku kan selalu menuggunya. Tetapi yang pasti ada hasratku tuk mencari sebab dan akibat mengapa ini terjadi dan tanpa menyalahkan seseorang karena bagiku instropeksi diri lebih baik.

MANUSIA BIASA
Kala diri terantuk penat nan menyiksa. Merobek hati dan mencabik asa. Tak ada ruang tuk ceria. Tak ada hunian tuk gembira. Hanya dusta yang membalut rasa. Hanya kecewa yang menghias makna. Sejenak kalbu berteriak murka. Ingin menjauh dari semuanya. Tak peduli apa arti dosa. Binasakan nurani dalam raga. Singkirkan iba yang terjelma. Lepaskan untaian kata cinta. Hempaskan tali silaturahmi manusia. Dan hanya ego yang berwarna. Namun akal ini mengecap beda. Karena aku hanyalah insan biasa. Mentasbihkan santunan sesama. Merindukan harapan bersama. Tak terbentur tentang kasta. Tak terbias tentang usia. Tak menilik tentang harta. Karena kita adalah insan-Nya. Yang hidup dalam satu selaksa dunia.


Selang berlalunya waktu akhirnya ku temukan ruang jiwa tuk ungkapkan bait-bait rasa yang terpendam. Dan ku ucapkan alhamdulillah atas kembalinya seseorang dalam hidupku yang membawa berkah. Semoga dengan peristiwa-peristiwa ini lahir sebuah kesadaran untuk kami sekeluarga bahwa di dunia ini kita di tuntut untuk mengerti akan jalan hidup {Kemauan} orang di sekitar kita agar sedikitnya kita bisa meredam kata individuaistis yang bersarang di otak kita. Semoga Di satu sisi ini akan menjadi awal yang indah bagi kami. Meski pergulatan permasalahan yang segudang tentunya akan datang menerpa kita semua. Memang saat ini takkan ku pungkiri ada rasa bahagia yang tuhan sampaikan kepadaku dengan mengirim beberapa orang yang bisa membuatku tersenyum lebar meski di labirinku menjerit. Yup sekumpulan sahabat yang ku sebut “Beli Jelas Beli Karuan {BJBK}”. Terimakasih ku sampaikan untuk kalian dengan mengkirabkan butiran kata cinta untukku.



UNTUK SOBAT-SOBATKU
Kalian sembunyikan duka dengan suka. Kalian hilangkan luka dengan ceria. Kalian biaskan lara dengan bahagia. Kalian tempat ku menyandarkan asa. Mentasbihkan kepentingan bersama. Membuat duniaku semakin berwarna. Sahabat. Di mataku kalian terlalu hebat. Teruslah berpegangan erat. Meski aral datang menghujat. Sirnakan butiran butiran penat. Bersama hingga waktu terlewat. Do’aku terus teruntai untuk kalian. Rangkailahlah untuk sebuah kenangan. Terkenang hingga akhir zaman. Pahat dengan rasa kebersamaan. Bagiku ini nilai persahabatan. Atau lebih pantas dengan persaudaraan. Kalian selalu temani langkah kaki. Beriringan hingga terlelap nanti. Hanya ikhlas dan ridho murni. Yang kalian tancapkan di hati. Tanpa timbal balik yang kau patri. Dan semoga semua ini kan abadi. Kini takkan ada lagi kata pilu. Karena izin Allah kita bersatu. Kepakkan sayap di dunia penuh liku. Guratkan segala cerita masa lalu. Tuk masa depan yang kan kita temu. Salam damai tuk persahabatan yang tak layu.