Sabtu, 02 Oktober 2010

SOCIALISM DEMOCRATIC

Kata familiar sang sering di tangkap gendang telinga. Social merupakan penjabaran bahwa manusia saling membutuhkan. Sedangkan kata democratic atau dalam bahasa Indonesia demokrasi mempunyai pembahasan musyawarah untuk mencapai kesepakatan. yang saya inget sih dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat… Hmmmm jadi inget pancasila yah??? berawal dari perbedaaan dan saling tidak mengenal maka berkat seizin dari-Nya lah, akhirnya silaturahmi sebagai bagian dari kewajiban manusia ciptakan-Nya dengan segala perbedaan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, agar manusia dapat saling menjaga silaturahmi. Silaturahmi perlu ada dan nyata diantara manusia untuk menjadikan manusia itu dapat membangun kehidupan di dunia sebagaimana fitrahnya yang diajarkan oleh semua agama dalam mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Pernyataan tersebut diatas menjadi dasar kesadaran untuk membangun dan menumbuh kembangkan suatu persahabatan dalam lingkup wilayah yang kecil dan sederhana yang berkeinginan menggalang kebersamaan dan persaudaraan diantara sesama sahabatnya. Berawal dari kebersamaan khususnya yang bersifat general dan universal bagi semua kalangan dan lapisan masyarakat yang tidak tertutup oleh perbedaan..selanjutnya manusia di ciptakan dengan berbagai karakter. Disini kadang menjadi suatu polemic karena perbedaan karakter yang sangat mencolok. Di butuhkan suatu keterbukaan antara sesama manusia sehingga perbedaan menjadi indah. ”. Sebetulnya manusia sendiri membutuhkan manusia yang lain seperti kata yang pernah gue denger خيرالناس انفعهم للناس “sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya” Dengan keterbukaan ini pulalah suatu mufakat akan tercipta. Bolehlah kita menilik atau bahkan menerapkan azas keterbukaan pancasila di kehidupan kita. Bukankah hasilnya akan lebih bagus seperti kesebelasan el matador yang mampu memuncaki tahta tertinggi diajang sepakbola dunia tahun 2010 dengan permainan terbuka serta kekompakan team ?? Polemic berjalan balance dalam kehidupan. Entah muncul darimana yang penting judulnya menjadi warna di dunia. Dipicu dari berbagai sudut apapun bisa. Nah kita dituntut untuk menyelesaikan polemic secara terbuka bukan hanya di simpan di otak. Sampaikanlah setiap jengkal uneg-uneg supaya lebih plong. Apalagi menjadi pemicu sifat individualistis kita yang muncul “SALAH BESAR”. Memang terkadang ada juga c sifat egois yang terpakai. namun dalam suatu komunitas gak kepake atau setidaknya sifat itu dipinggirkan sementara untuk mencapai kebersamaan. Nah kadang manusia itu sendiri susah untuk menyampaikan aspirasi / uneg-unegnya padahal dalam suatu kebersamaan ada wadah yang siap menampung segala aspirasi yang sifatnya terbuka. But jangan lupa juga bro kita hidup gak sekarepe dhewek. Apalagi sok ngerasa tua jadi pengen dihormati No way lagian dimata sang pencipta derajat manusia setara yang membedakan amal ma’rufnya. Nha gimana amal kita penegen di itung kalo kelakuan pribadi kita dari ruang lingkup sendiri za dah gak karuan. Disini gue bukanya pengen kita terus mikir amal buat akhirat melulu neh. And Dunia dan akhirat juga kudu imbang lho. Kalo gak salah ada yang pernah ngingetin gue kata-kata kaya gini “bekerjalah kamu untuk duniamu seakan akan kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan akan kamu akan mati esok “ٳعمل لد نيك كأ نك تعس ابدا و إعمل لاخرتك كأ نك تموت غدا”. Ada satu bagian yang perlu di garis bawahi pula kita dalam sehari memempuh 24 jam jika kita bagi 3 jam maka jumlahnya ada 8 jam dari angka tersebut {Maksudnya 8 jam} kita bisa menjabarkan kita di beri waktu oleh Allah 8 jam untuk beribadah {bekerja untuk akhirat}, 8 jam untuk bekerja {bekerja untuk kehidupan didunia} dan 8 jam sisanya untuk istirahat. Dan dalam kehidupan dunia kita di wajibkan untuk mensosialisasikan diri, memahami dan mempelajari apa yang ada didepan mata dan di sekitar kita. So mungkin setiap peristiwa merupakan pelajaran bagi kita dan tentu saja menjadi cermin bagi kita untuk melangkah kearah yang lebih baik. But mungkin tidak semua manusia mampu mengungkapkan keterbukaan apalagi yang sifatnya akan memicu permasalahan. Sebernarnya justru polemic itu akan membuat kita terus belajar tentang kekurangan dan kelebihan pribadi masing-masing dalam suatu komunitas. So sifat lapang dada dan interopeksi diri yang harusnya muncul tatkala ada yang mungkin bisa membuat orang lain menjadi geram alasanya simple aza jika kita mau di hargai orang laen maka hargailah orang di sekitarmu. Maklum setiap individu tak selamanya dalam keadaan yang stabil dalam arti mungkin ada suatu perkara yang membuat pribadinya tidak memakai akal sehat entah dalam lingkungan keluarga, pekerjaan atau apalah istilahnya. Disitu harus ada kata kewajaran bagi ruang lingkup kita. Maybe dengan meminta maaf mungkin kita enjoy again karena kata tersebut merupakan kunci untuk menstabilkan semua atau seenggaknya bisa ngeclearin masalah. Tapi terkadang dengan tidak sadar kita melakukan itu kembali. Okelah kata الانسان محل الخطأ ونسيان ini menjelaskan bahwa “manusia memang tempatnya salah dan dosa”. Terus bukannya kita harus semena-mena terus meminta maaf atas semua kesalahan yang telah kita buat terus-menerus dengan berlagak sok punya dalil الله الغفور “Allah juga pengampun koq”. And so guys kesimpulanya dalam kehidupan kita di tuntut disamping kita kudu ngenal diri pribadi kita. Kita juga mesti ngenal personality dari keluarga, sahabat, teman atapun yang ada di sekitar kita.. dengan demikian dalam titian hidup yang kita jalani akan terasa lebih indah apalagi dengan disertai rasa syukur kepada Allah SWT.. karena Allah telah berjanji “لإن سكرتم لأزيد نكم ولإن كفرتم إن عذ ب لاشديد “ Tetapi tak pelak juga dalam suatu komunitas yang telah terpupuk lama ataupun seumur jagung akan membuat kita untuk mempelajari setiap sifat – sifat pada personal masing-masing.. yah maklumlah setiap insan mempunyai karakteristik berbeda. Nah gimana caranya aza kira-kira kita memperkecil kesalahan yang akan memicu suatu permasalahan. warna tersendiri bagi kita untuk mempelajari setiap personal dalam suatu komunitas tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nah gimana kita bisa meminimalisir untuk tidak memperkeruh suasana dengan merendahkan kekurangan orang lain. Terkadang dengan kita memahami orang lain maka akan timbul suatu sifat solidaritas, kekeluargaan atau apalah judulnya yang penting untuk kepentingan bersama. Nah yang bikin gue bingung kadang rasa ada rasa yang lebay. Yach berbagai macam alasan simpel ada yang karena “ witing tresno jalaran soko kulino”. Entah apa yang terjadi tatkala kita nyentuh yang namanya suka kepada satu orang dalam suatu komunitas yang notabene sudah terikat suatu kesepakatan yang di bikin komunitas tersebut contohnya “Kita semua adalah saudara”. Tapi kalo kita menilik ke dalam segi agama “المسلمين إحوان” . bukan hanya dalam satu komunitas aza ada efek persaudaraan tetapi satu yang pasti semua muslim bersaudara. Akhirnya muncul suatu pertanyaan “apakah kita tidak boleh mencintai sahabat kita sendiri?”. Sedangkan yang gue tau itu adalah anugerah dari Allah So gimana mungkin kita menghindariya. Memang cinta tak harus memiliki. Dengan mencurahkan kasih sayang terhadap orang yang kita sayang cukup untuk mendapatkan suatu perasaan memiliki meski gak ada deal buat “JADIAN” or pacaran gituch katanya. IYA GAK SEEEEEEEEEEEHHHHHHH..